Minggu, 05 Januari 2025

Resensi Buku "No pain no gain"

PEJUANG LANGIT YANG TAK PERNAH TERSUNGKUR


Identitas Resentator 

·         Nama : Dobrimeka Wibowo

  Kelas : 11 Menu 5 

·         Sekolah : SMA Negeri 1 Kota Kupang

·         Alamat Sekolah : Jl. Cak Doko No.59, Oetete, Kec. Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.




Identitas Buku :

                 Judul Buku : No Pain No Gain

                 Nama Pengarang  : Reni Rohmawati

                 Penerbit : KPG (kepustakaan populer Gramedia)

                 Tahun terbit : 2023              

                 Jumlah halaman : 228

                 ISBN : 978-623-134-145-7 (PDF)


A. Pendahuluan

    Perjalanan kisah hidup seorang Capt. Christian Tandirerung Bisara sebagai Pilot, dari kampung kecil di kaki Gunung Latimojong Sulawesi Selatan hingga bisa terbang mengelilingi dunia. Ia telah mengunjungi banyak kota di dunia, baik untuk flight training maupun sebagai captain pilot Garuda Indonesia dan private plane.

    Sang Pilot yang lebih akrab disapa Capt. CB ini mendapat julukan “The legend” di dunia penerbangan sipil nasional. Tak heran, karna ia sudah berkarrier sejak tahun 1969, bukan cuman sebagai captain pilot, namun juga sebagai Flight Operation Inspector, Flight Calibration Inspector, Government Check Pilot, dan Aircraft Accident Investigator. Tak terhitung lagi jumlah pilot yang pernah ia latih dan juga periksa. Akan tetapi, di balik kesuksesannya, kisah hidup nya tentu tidaklah mudah. Berbagai rintangan dan penderitaan telah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. "No pain no gain” yang selalu ia tegaskan, menjadi tekadnya untuk terus maju dan berjuang demi meraih kesuksesan serta menginspirasi semua orang.

Meskipun informasi tentang latar belakang Reni Rohmawati sebagai penulis buku ini sulit ditemukan. Namun dari kualitas karya yang dihasilkan sudah menggambarkan kemampuan dan pengalamannya dalam menulis buku. Ia berhasil mengemas kisah Christian Bisara dengan baik dan rapi dari awal hingga akhir dengan gaya bahasa yang jelas serta mudah dimengerti. Hal ini membuat buku ini sangat layak untuk dibaca, terutama bagi mereka yang tertarik di dunia penerbangan.

  Selain menceritakan tentang kisah hidup Capt. Christian Bisara yang inspiratif, buku ini juga dapat memperluas wawasan mengenai profesi penerbangan yang jarang dibahas secara mendalam di literatur umum​. Selain itu, dapat memberikan motivasi pembaca untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan dalam hidup apapun latar belakang dan cita-cita mereka.

B. Ringkasan Isi             

     Buku ini berkisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Christian Tandirerung Bisara yang lahir pada tanggal 3 November 1946 di Palopo, Sulawesi Selatan. Pada waktu itu dia tinggal di kampung kecil di kaki gunung latimojong. Meski hidup dalam keterbatasan, akan tetapi ia telah menunjukkan semangat yang tinggi dalam belajar saat SD sama SMP. Namun, keadaan berbalik saat dia masuk SMA, dia menjadi anak yang bandel dan tidak mau belajar. Akibatnya dia di tegur oleh pastornya dan terancam tidak akan naik kelas. Dari situ menjadi titik balik yang mengubah hidupnya untuk kembali belajar dengan tekun. Disinilah benih mimpinya menjadi pilot tumbuh, terinspirasi oleh sebuah artikel di majalah tentang pelatihan pilot di Akademi Penerbangan Indonesia (API) Curug. Dia pun mengikuti ujiannya pada bulan Juli 1964 dan dinyatakan lolos setelah 2 bulan menunggu.

      Perjalanannya saat sudah bersekolah di Curug tidak berjalan mulus, sialnya pada angkatan mereka, Curug dihadapkan dengan keterbatasan fasilitas penerbangan yang memadai, seperti pesawat latih yang rusak serta hambatan nasional seperti peristiwa G30S menyebabkan libur yang sangat panjang. Akan tetapi, cobaan yang paling berat dirasakan oleh Christian Bisara saat dia ditinggalkan oleh sang Ibunda yang menjadi korban konflik DI/TII saat menjadi petugas kesehatan. Saat mendapat informasi tersebut sontak membuat nya sangat sedih. Setengah dari jiwanya hilang pada saat itu. Namun, dia tetap berdiri dan bertekad untuk melanjutkan perjuangan demi keluarganya.

      Setelah wisuda pada tahun 1969, dia memulai kariernya sebagai Flight Instructor di Curug. Dedikasinya yang tinggi, membawanya lebih dalam ke dunia penerbangan sehingga dia menjadi Flight Calibration Inspector, Government Checked Pilot dan Aircraft Accident Investigator. Bahkan ia sudah mengantongi berbagai raing pesawat serta 3 lisensi pilot dari negara yang berbeda termasuk menjadi captain di sebuah pesawat terbang terbesar pada zamannya yakni Boeing 747-400. Kesibukannya di kantor dan terbang sebagai Pilot di Garuda tidak menghambatnya untuk menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia maupun Magistrat Management di IPWI Jakarta.

      Dalam masa hidupnya yang telah mencapai usia senja, Cristian masih mampu menerbangkan sebuah pesawat Cessna 172 saat mengikuti reuni akbar di bandara Budiarto yang diselenggarakan oleh Ikatan Pilot Alumni Curug (IPAC), menjelang 2 bulan sebelum ulang tahunnya ke-77 pada tahun 2023. Dengan pengalaman terbang selama puluhan tahun, ia masih bisa menunjukkan keahliannya yang luar biasa dalam mengendalikan pesawat. Selain itu semangatnya sebagai pilot tetap menyala tanpa henti. Tidak heran jika ia disebut sebagai The Legend dalam dunia penerbangan sipil nasional.

 

C. Analisis dan Evaluasi

Untuk mendukung pembaca agar dapat menampilkan visual dalam imajinasinya ketika sedang membaca, dalam buku yang berjudul “No Pain No Gain” ini disediakan foto-foto kehidupan nya Capt. Christian Bisara pada zaman dahulu mulai dari masa kecilnya di kaki Gunung Latimojong, perjuangannya di Akademi Penerbangan Indonesia (API) Curug, hingga momen-momen mengesankan dalam karier panjangnya sebagai pilot, inspektur penerbangan, dan pengajar yang diambil dari file-file dokumen asli milik pribadi nya sendiri. Misalnya diceritakan waktu bagian dia yang lahir di kampung polopo dan dibesarkan disana,  disediakan sebuah foto dirinya sewaktu dia masih kecil, ada juga momen Ketika dia bersekolah di API (Akademi Penerbangan Indonesia) ada foto dirinya bersama taruna-taruna lain. Bukan hanya itu, Ilustrasi yang disisipkan dalam beberapa bagian buku memberikan gambaran visual tambahan tentang aktivitasnya, suasana yang ia alami, atau bahkan momen-momen emosional tertentu. Ilustrasi yang digambar sendiri oleh D. Cedhar berhasil memperjelas kejadian yang dialami Cristian, sehingga buku ini memiliki keunggulan dari cara penyajian visualnya yang membuat bukunya menjadi menarik, interaktif dan tentunya jadi tidak terlihat membosankan karna bukan cuman tulisan saja. Sang penulis juga sangat pandai betul dalam menuliskan cerita kehidupan Christian Bisara dengan baik. Gaya bahasa yang tidak terlalu kaku dan juga santai menjadikan buku ini sangat mudah dipahami dan menarik perhatian pembaca. Istilah-istilah kata dan bahasa jaman dulu yang dipakai dalam buku ini pun dijelaskan dengan terperinci oleh sang penulis sehingga pembaca tidak akan kebinggungan, sekaligus bisa menambah wawasan baru karnanya.

     Sayangnya buku ini tidak begitu sempurna, dibalik beberapa keunggulan nya yang sudah jelaskan, terdapat juga beberapa kesalahan pada bagian penulisan teksnya. Seperti kesalahan dalam penulisan kata dan pengulangan kata, contohnya dapat kita lihat seperti pada halaman 201 paragraf kelima pada buku tersebut terdapat pengulangan kata berupa kata “itu”, dan juga tepat di halaman selanjutnya pada paragraf pertama terdapat kesalahan pengetikan kata pada kalimat kedua yaitu “opersi” yang seharusnya “operasi”. Kesalahan semacam ini, meskipun mungkin dianggap kecil, berpotensi mengurangi kualitas buku terutama jika ditemukan pada bagian-bagian penting yang seharusnya menguatkan narasi. Tentunya ini Perlu dilakukan proses penyuntingan ulang yang lebih teliti untuk memperbaiki kesalahan sehingga karya ini bisa menjadi lebih lagi dan bahkan menjadi sempurna.

     Buku No Pain, No Gain secara umum lebih cocok untuk pembaca remaja hingga dewasa, terutama yang memiliki minat terhadap dunia penerbangan, kisah inspiratif, atau perjalanan hidup seseorang yang penuh tantangan. Seperti yang sempat disinggung tadi, buku ini memiliki banyak sekali istilah teknis yang berkaitan dengan dunia penerbangan, seperti sistem pesawat, prosedur pelatihan, dan jabatan profesional di bidang penerbangan. Bagi pembaca anak-anak, hal ini mungkin cukup sulit dipahami tanpa penjelasan yang lebih sederhana. Apalagi buku ini mengandung beberapa adegan dan bahasa yang mungkin kurang cocok untuk anak-anak, seperti kata-kata kasar atau peristiwa yang tidak patut dicontoh. Beberapa bagian dalam buku ini menggunakan kata-kata yang kasar dan tidak sesuai untuk pembaca anak-anak. Misalnya, momen Capt. CB yang sedang meluapkan kekesalannya terhadap Garuda contohnya seperti, “Masa ketika sudah selesai langsung dicampakkan begitu saja?saya bilang, they dump me like a sh*t! saya marah betul”. Selain itu, ada adegan tertentu yang menggambarkan tindakan yang kurang patut ditiru yang dilakukan oleh Christian saat dia SMA.

Tapi mengesampingkan kekurangan tersebut pastinya Dari buku ini banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh seperti memperluas pengetahuan kita tentang dunia penerbangan di Indonesia serta khususnya untuk profesi pilot itu sendiri. Selain itu, kita dapat belajar dan mengambil nilai-nilai positif dalam tokoh Capt. Cristian Bisara karna mengajarkan kita  bagaimana untuk mencapai suatu impian butuh kerja keras. Kalau tidak ada usaha dan upaya yang sungguh-sungguh (no pain) memang tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan (no gain).

 

D. Kesimpulan dan Rekomendasi 

Buku No Pain No Gain Capt. Cristian Bisara adalah sebuah buku biografi yang inspiratif, menggambarkan perjalanan sang pilot legendaris dari kampung kecil di Sulawesi Selatan hingga menggapai puncak karier di dunia penerbangan. Buku ini tidak hanya menyoroti keberhasilan Capt. Bisara sebagai pilot Garuda ataupun inspektur penerbangan, tetapi juga perjuangannya dalam menghadapi tantangan dalam hidup, seperti tragedi keluarga yang menimpanya, dan kerterbatasan fasilitas penerbangan serta kondisi sosial-politik yang penuh tantangan saat ia menempuh pendidikan di Curug. Dengan gaya narasi yang sederhana namun penuh makna, buku ini menghadirkan nilai-nilai ketekunan, disiplin, kerja keras, serta “No pain no gain!” sebagai tekadnya untuk terus maju dan terus berkarir. Keunggulan buku ini terletak pada penyampaian bahasanya yang interaktif dan mudah dimengerti oleh pembaca. Penggunaan visualisasi, seperti foto-foto pribadi dan ilustrasi, memberikan gambaran dan memberikan pengalaman yang baik ketika berimajinasi. Namun, penggunaan istilah teknis yang kompleks dan beberapa adegan yang kurang pantas membuatnya lebih cocok untuk pembaca dewasa atau remaja yang mampu memahami konteksnya. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang mencari inspirasi tentang kegigihan dalam menggapai mimpi, terutama bagi mereka yang tertarik pada dunia penerbangan. Selain itu dapat memotivasi pembaca dari berbagai latar belakang berbeda untuk terus maju dan meraih kesuksesan di masa depan.



                                              

                                

Jumat, 27 Desember 2024

"Krisis Literasi di Indonesia: Ancaman Bagi Masa Depan Bangsa”

Krisis Literasi di Indonesia




    Di tengah gemuruh perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi, literasi menjadi aspek yang esensial bagi kemajuan suatu bangsa.Literasi yang baik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi, memungkinkan individu untuk menganalisis informasi dengan efektif dan mengekspresikan ide mereka secara jelas.

    Seorang ahli Elizabeth Sulzby menyatakan bahwa literasi merupakan kemampuan seseorang dalam berbahasa dan berkomunikasi. Dimana orang tersebut tidak hanya memiliki kemampuan membaca saja. Tetapi juga memiliki kemampuan menyimak, berbicara serta menulis.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Sayangnya, realitas yang kita hadapi menunjukkan bahwa literasi di Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda, semakin memudar. UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah dalam hal literasi dunia, yang mengindikasikan minat baca yang sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.

    Riset lain, "World's Most Literate Nations Ranked" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Posisi ini tepat di bawah Thailand (59) dan di atas Botswana (61). Ironisnya, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia justru berada di atas negara-negara Eropa.Sedangkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat.

    Realitas yang terjadi di Indonesia sangat memprihatinkan. Meski pendidikan telah menjadi hak semua warga negara, masalah rendahnya literasi masih menghantui banyak siswa, termasuk di kalangan pelajar SMA. Ironisnya, di berbagai wilayah, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat siswa SMA yang masih belum mampu membaca dengan lancar, bahkan setelah bertahun-tahun mengenyam pendidikan formal.Contohnya saja SMA Negeri Bolan, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka.Banyak siswa belum bisa menguasai kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung dengan lancar. Akibatnya, mereka sangat kesulitan dalam mengikuti pembelajaran di kelas.”Saya coba tulis angka ribuan terus minta mereka baca, tapi tidak bisa. Juga membaca kalimat panjang masih susah. Ini sangat fatal sekali,” kata Donatus Bria Seran, Kepala SMA Negeri Bolan.

    Kondisi yang sama juga disampaikan Simon Seffi, seorang guru SMA Negeri 2 Fatuleu Barat. Ia menuturkan, banyak sekali siswa yang tidak memahami materi pelajaran matematika yang dia ajarkan lantaran kekurangannya dalam hal membaca. kemudian ia melakukan survei ke beberapa sekolah dasar dan hasilnya sangat mencengangkan.Bahwa ternyata lebih dari 50% siswa memiliki kemampuan membaca pada ketegori sangat rendah. ”Bahkan, mengeja suku kata pun sangat kesulitan. Ketahuan bahwa dasar mereka tidak kuat. Mereka belum tuntas baca tulis di tingkat sekolah dasar,” tuturnya.

    Fenomena ini menciptakan wajah buram bagi dunia pendidikan di Tanah Air. Rendahnya tingkat literasi telah melemahkan fondasi dasar yang seharusnya menopang kemajuan bangsa. Literasi, yang seharusnya menjadi landasan utama dalam membentuk generasi yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing, kini justru terabaikan di berbagai lapisan masyarakat. Menurunnya tingkat literasi di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti minimnya akses terhadap bahan bacaan di daerah terpencil, kurangnya budaya membaca di kalangan masyarakat, serta kualitas pendidikan yang tidak merata di berbagai wilayah. Selain itu, kemajuan teknologi digital mengalihkan perhatian dari aktivitas membaca.

    Namun kebiasaan membaca dapat kita tumbuhkan. menurut buku “Atomic Habits” yang ditulis oleh James Clear tentang “an Easy Way & Proven Way to Build Good Habits & Breaks Bad One” ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun suatu kebiasaan seperti :

1.  Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan yang besar.

    Kita dapat menerapkannya melalui kebiasaan membaca yang kecil dan konsisten. Setiap hari, kamu tidak perlu menghasilkan perubahan yang besar anggap saja 34% atau bahkan sampai 50%, tapi cukup dengan perubahan yang kecil saja yaitu cuman 1% setiap harinya, maka lama-kelamaan akan membawa dampak perubahan yang besar nantinya.

2. Menjadikannya terlihat.

    Agar suatu kebiasaan dapat kita ulang secara terus-menurus kita harus selalu melihatnya. Contohnya kita dapat menaruh buku di tempat-tempat yang mudah terlihat seperti menaruhnya di dekat tempat tidur atau misalnya kalau di kelas kita dapat menaruhnya di pojok baca.

3. Menjadikannya mudah dan menarik.

   Dalam Atomic Habits, James menekankan pentingnya memulai dengan kebiasaan yang mudah untuk dilakukan. Untuk meningkatkan minat baca, penting untuk memulai dengan buku atau bacaan yang menarik bagi anak-anak dan remaja, seperti komik edukatif atau cerita pendek yang sesuai dengan minat mereka. Ini akan menghilangkan rasa berat dan membuat aktivitas membaca lebih menyenangkan.

4. Membentuk Kebiasaan yang Terhubung dengan Kebiasaan Lain.

    James Clear menyarankan menggunakan habit stacking, yaitu menghubungkan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah ada. Contohnya, mungkin kamu ada kebiasaan menggosok gigi mu sebelum tidur, nah jadi katakan lah pada dirimu bahwa setelah menggosok gigi saya akan membaca buku hingga saya ngantuk baru saya tidur, sehingga dapat tercipta lah habit stracking disitu. Dengan cara ini membuat membaca menjadi bagian rutinitas sehari-hari yang sudah ada.

5. Self-Rewards.

    Clear menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk melalui siklus isyarat (cue), keinginan (craving), respons (response), dan hadiah (reward). Hadiah yang diberikan setelah respons (tindakan) membuat otak lebih cenderung mengulangi kebiasaan tersebut karena otak mengasosiasikan tindakan dengan hasil positif. Misalnya, setelah membaca, kamu bisa menikmati cemilan favoritmu sebagai penghargaan.

    Di tengah ancaman krisis literasi yang memprihatinkan, kita tidak boleh tinggal diam. Pendidikan dan literasi adalah fondasi yang menentukan masa depan generasi mendatang. Meski banyak tantangan yang kita hadapi, seperti rendahnya akses terhadap bahan bacaan dan kurangnya budaya membaca, perubahan tetap mungkin terjadi.

   Dengan langkah kecil yang konsisten, seperti yang dijelaskan oleh James Clear dalam Atomic Habits”, kita bisa menumbuhkan kebiasaan membaca yang akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Mulai dari kebiasaan kecil, menjadikannya terlihat, mudah, dan menarik, hingga membentuk rutinitas membaca yang terhubung dengan aktivitas sehari-hari—semua ini dapat membantu membangkitkan kembali budaya literasi di Indonesia.

    Masa depan bangsa ada di tangan kita, dan meningkatkan literasi adalah salah satu kunci utama untuk mencapainya. Mari bersama-sama berani mengambil langkah, karena perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Dengan literasi yang kuat, kita akan mampu membangun bangsa yang lebih cerdas, kompetitif, dan berdaya saing di era global.



Sumber :

 https://kbbi.lektur.id/literasi

https://kallainstitute.ac.id/rendahnya-minat-literasi-di-indonesia/

https://sevima.com/pengertian-literasi-menurut-para-ahli-tujuan-manfaat-jenis-dan-prinsip/

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2022/05/26/banyak-siswa-sma-di-ntt-tak-lancar-membaca

https://validnews.id/nasional/studi-siswa-di-ntt-sulit-tingkatkan-literasi

https://www.kompas.id/baca/dikbud/2021/11/30/banyak-siswa-sma-di-daerah-3t-tak-lancar-membaca-dan-berhitung

 

Sumber gambar :

https://situsbudaya.id/budaya-literasi-di-indonesia-ebook/

https://medium.com/@aprxty/financial-literacy-and-inclusion-index-in-indonesia-c127ff6be1ec


Resensi Buku "No pain no gain"

PEJUANG LANGIT YANG TAK PERNAH TERSUNGKUR Identitas Resentator  ·          Nama : Dobrimeka Wibowo K    Kelas : 11 Menu 5   ·          Seko...