Jumat, 27 Desember 2024

"Krisis Literasi di Indonesia: Ancaman Bagi Masa Depan Bangsa”

Krisis Literasi di Indonesia




    Di tengah gemuruh perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi, literasi menjadi aspek yang esensial bagi kemajuan suatu bangsa.Literasi yang baik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi, memungkinkan individu untuk menganalisis informasi dengan efektif dan mengekspresikan ide mereka secara jelas.

    Seorang ahli Elizabeth Sulzby menyatakan bahwa literasi merupakan kemampuan seseorang dalam berbahasa dan berkomunikasi. Dimana orang tersebut tidak hanya memiliki kemampuan membaca saja. Tetapi juga memiliki kemampuan menyimak, berbicara serta menulis.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Sayangnya, realitas yang kita hadapi menunjukkan bahwa literasi di Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda, semakin memudar. UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah dalam hal literasi dunia, yang mengindikasikan minat baca yang sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca.

    Riset lain, "World's Most Literate Nations Ranked" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Posisi ini tepat di bawah Thailand (59) dan di atas Botswana (61). Ironisnya, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia justru berada di atas negara-negara Eropa.Sedangkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat.

    Realitas yang terjadi di Indonesia sangat memprihatinkan. Meski pendidikan telah menjadi hak semua warga negara, masalah rendahnya literasi masih menghantui banyak siswa, termasuk di kalangan pelajar SMA. Ironisnya, di berbagai wilayah, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat siswa SMA yang masih belum mampu membaca dengan lancar, bahkan setelah bertahun-tahun mengenyam pendidikan formal.Contohnya saja SMA Negeri Bolan, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka.Banyak siswa belum bisa menguasai kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung dengan lancar. Akibatnya, mereka sangat kesulitan dalam mengikuti pembelajaran di kelas.”Saya coba tulis angka ribuan terus minta mereka baca, tapi tidak bisa. Juga membaca kalimat panjang masih susah. Ini sangat fatal sekali,” kata Donatus Bria Seran, Kepala SMA Negeri Bolan.

    Kondisi yang sama juga disampaikan Simon Seffi, seorang guru SMA Negeri 2 Fatuleu Barat. Ia menuturkan, banyak sekali siswa yang tidak memahami materi pelajaran matematika yang dia ajarkan lantaran kekurangannya dalam hal membaca. kemudian ia melakukan survei ke beberapa sekolah dasar dan hasilnya sangat mencengangkan.Bahwa ternyata lebih dari 50% siswa memiliki kemampuan membaca pada ketegori sangat rendah. ”Bahkan, mengeja suku kata pun sangat kesulitan. Ketahuan bahwa dasar mereka tidak kuat. Mereka belum tuntas baca tulis di tingkat sekolah dasar,” tuturnya.

    Fenomena ini menciptakan wajah buram bagi dunia pendidikan di Tanah Air. Rendahnya tingkat literasi telah melemahkan fondasi dasar yang seharusnya menopang kemajuan bangsa. Literasi, yang seharusnya menjadi landasan utama dalam membentuk generasi yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing, kini justru terabaikan di berbagai lapisan masyarakat. Menurunnya tingkat literasi di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti minimnya akses terhadap bahan bacaan di daerah terpencil, kurangnya budaya membaca di kalangan masyarakat, serta kualitas pendidikan yang tidak merata di berbagai wilayah. Selain itu, kemajuan teknologi digital mengalihkan perhatian dari aktivitas membaca.

    Namun kebiasaan membaca dapat kita tumbuhkan. menurut buku “Atomic Habits” yang ditulis oleh James Clear tentang “an Easy Way & Proven Way to Build Good Habits & Breaks Bad One” ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun suatu kebiasaan seperti :

1.  Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan yang besar.

    Kita dapat menerapkannya melalui kebiasaan membaca yang kecil dan konsisten. Setiap hari, kamu tidak perlu menghasilkan perubahan yang besar anggap saja 34% atau bahkan sampai 50%, tapi cukup dengan perubahan yang kecil saja yaitu cuman 1% setiap harinya, maka lama-kelamaan akan membawa dampak perubahan yang besar nantinya.

2. Menjadikannya terlihat.

    Agar suatu kebiasaan dapat kita ulang secara terus-menurus kita harus selalu melihatnya. Contohnya kita dapat menaruh buku di tempat-tempat yang mudah terlihat seperti menaruhnya di dekat tempat tidur atau misalnya kalau di kelas kita dapat menaruhnya di pojok baca.

3. Menjadikannya mudah dan menarik.

   Dalam Atomic Habits, James menekankan pentingnya memulai dengan kebiasaan yang mudah untuk dilakukan. Untuk meningkatkan minat baca, penting untuk memulai dengan buku atau bacaan yang menarik bagi anak-anak dan remaja, seperti komik edukatif atau cerita pendek yang sesuai dengan minat mereka. Ini akan menghilangkan rasa berat dan membuat aktivitas membaca lebih menyenangkan.

4. Membentuk Kebiasaan yang Terhubung dengan Kebiasaan Lain.

    James Clear menyarankan menggunakan habit stacking, yaitu menghubungkan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah ada. Contohnya, mungkin kamu ada kebiasaan menggosok gigi mu sebelum tidur, nah jadi katakan lah pada dirimu bahwa setelah menggosok gigi saya akan membaca buku hingga saya ngantuk baru saya tidur, sehingga dapat tercipta lah habit stracking disitu. Dengan cara ini membuat membaca menjadi bagian rutinitas sehari-hari yang sudah ada.

5. Self-Rewards.

    Clear menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk melalui siklus isyarat (cue), keinginan (craving), respons (response), dan hadiah (reward). Hadiah yang diberikan setelah respons (tindakan) membuat otak lebih cenderung mengulangi kebiasaan tersebut karena otak mengasosiasikan tindakan dengan hasil positif. Misalnya, setelah membaca, kamu bisa menikmati cemilan favoritmu sebagai penghargaan.

    Di tengah ancaman krisis literasi yang memprihatinkan, kita tidak boleh tinggal diam. Pendidikan dan literasi adalah fondasi yang menentukan masa depan generasi mendatang. Meski banyak tantangan yang kita hadapi, seperti rendahnya akses terhadap bahan bacaan dan kurangnya budaya membaca, perubahan tetap mungkin terjadi.

   Dengan langkah kecil yang konsisten, seperti yang dijelaskan oleh James Clear dalam Atomic Habits”, kita bisa menumbuhkan kebiasaan membaca yang akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Mulai dari kebiasaan kecil, menjadikannya terlihat, mudah, dan menarik, hingga membentuk rutinitas membaca yang terhubung dengan aktivitas sehari-hari—semua ini dapat membantu membangkitkan kembali budaya literasi di Indonesia.

    Masa depan bangsa ada di tangan kita, dan meningkatkan literasi adalah salah satu kunci utama untuk mencapainya. Mari bersama-sama berani mengambil langkah, karena perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Dengan literasi yang kuat, kita akan mampu membangun bangsa yang lebih cerdas, kompetitif, dan berdaya saing di era global.



Sumber :

 https://kbbi.lektur.id/literasi

https://kallainstitute.ac.id/rendahnya-minat-literasi-di-indonesia/

https://sevima.com/pengertian-literasi-menurut-para-ahli-tujuan-manfaat-jenis-dan-prinsip/

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2022/05/26/banyak-siswa-sma-di-ntt-tak-lancar-membaca

https://validnews.id/nasional/studi-siswa-di-ntt-sulit-tingkatkan-literasi

https://www.kompas.id/baca/dikbud/2021/11/30/banyak-siswa-sma-di-daerah-3t-tak-lancar-membaca-dan-berhitung

 

Sumber gambar :

https://situsbudaya.id/budaya-literasi-di-indonesia-ebook/

https://medium.com/@aprxty/financial-literacy-and-inclusion-index-in-indonesia-c127ff6be1ec


Resensi Buku "No pain no gain"

PEJUANG LANGIT YANG TAK PERNAH TERSUNGKUR Identitas Resentator  ·          Nama : Dobrimeka Wibowo K    Kelas : 11 Menu 5   ·          Seko...