Di tengah gemuruh perkembangan zaman yang
ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi, literasi menjadi aspek yang
esensial bagi kemajuan suatu bangsa.Literasi yang baik dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis dan komunikasi, memungkinkan individu untuk
menganalisis informasi dengan efektif dan mengekspresikan ide mereka secara
jelas.
Seorang ahli Elizabeth Sulzby menyatakan
bahwa literasi merupakan kemampuan seseorang dalam berbahasa dan berkomunikasi.
Dimana orang tersebut tidak hanya memiliki kemampuan membaca saja. Tetapi juga
memiliki kemampuan menyimak, berbicara serta menulis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), arti kata literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam
berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan
masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, realitas yang kita hadapi
menunjukkan bahwa literasi di Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda,
semakin memudar. UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua
dari bawah dalam hal literasi dunia, yang mengindikasikan minat baca yang
sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat
memprihatinkan hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang
yang rajin membaca.
Riset lain, "World's Most Literate
Nations Ranked" yang dilakukan oleh Central Connecticut State
University pada tahun 2016, menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari
61 negara dalam hal minat membaca. Posisi ini tepat di bawah Thailand (59) dan
di atas Botswana (61). Ironisnya, dari segi penilaian infrastruktur untuk
mendukung membaca, peringkat Indonesia justru berada di atas negara-negara
Eropa.Sedangkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada
tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin
membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di
kalangan masyarakat.
Realitas yang terjadi di Indonesia sangat
memprihatinkan. Meski pendidikan telah menjadi hak semua warga negara, masalah
rendahnya literasi masih menghantui banyak siswa, termasuk di kalangan pelajar
SMA. Ironisnya, di berbagai wilayah, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT),
terdapat siswa SMA yang masih belum mampu membaca dengan lancar, bahkan setelah
bertahun-tahun mengenyam pendidikan formal.Contohnya saja SMA Negeri Bolan,
Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka.Banyak siswa belum bisa menguasai
kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung dengan lancar. Akibatnya, mereka
sangat kesulitan dalam mengikuti pembelajaran di kelas.”Saya coba tulis angka
ribuan terus minta mereka baca, tapi tidak bisa. Juga membaca kalimat panjang
masih susah. Ini sangat fatal sekali,” kata Donatus Bria Seran, Kepala SMA
Negeri Bolan.
Kondisi yang sama juga disampaikan Simon
Seffi, seorang guru SMA Negeri 2 Fatuleu Barat. Ia menuturkan, banyak sekali
siswa yang tidak memahami materi pelajaran matematika yang dia ajarkan lantaran
kekurangannya dalam hal membaca. kemudian ia melakukan survei ke beberapa
sekolah dasar dan hasilnya sangat mencengangkan.Bahwa ternyata lebih dari 50% siswa
memiliki kemampuan membaca pada ketegori sangat rendah. ”Bahkan, mengeja suku
kata pun sangat kesulitan. Ketahuan bahwa dasar mereka tidak kuat. Mereka belum
tuntas baca tulis di tingkat sekolah dasar,” tuturnya.
Fenomena ini menciptakan wajah buram bagi dunia
pendidikan di Tanah Air. Rendahnya tingkat literasi telah melemahkan fondasi
dasar yang seharusnya menopang kemajuan bangsa. Literasi, yang seharusnya
menjadi landasan utama dalam membentuk generasi yang cerdas, kreatif, dan
berdaya saing, kini justru terabaikan di berbagai lapisan masyarakat.
Menurunnya tingkat literasi di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti minimnya akses terhadap bahan bacaan di daerah terpencil, kurangnya
budaya membaca di kalangan masyarakat, serta kualitas pendidikan yang tidak
merata di berbagai wilayah. Selain itu, kemajuan teknologi digital mengalihkan
perhatian dari aktivitas membaca.
Namun kebiasaan membaca dapat kita
tumbuhkan. menurut buku “Atomic Habits” yang ditulis oleh James Clear tentang
“an Easy Way & Proven Way to Build Good Habits & Breaks Bad One” ada
banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun suatu kebiasaan seperti :
1.
Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan
perubahan yang besar.
Kita dapat menerapkannya melalui kebiasaan
membaca yang kecil dan konsisten. Setiap hari, kamu tidak perlu menghasilkan
perubahan yang besar anggap saja 34% atau bahkan sampai 50%, tapi cukup dengan
perubahan yang kecil saja yaitu cuman 1% setiap harinya, maka lama-kelamaan
akan membawa dampak perubahan yang besar nantinya.
2. Menjadikannya terlihat.
Agar suatu kebiasaan dapat kita ulang
secara terus-menurus kita harus selalu melihatnya. Contohnya kita dapat menaruh
buku di tempat-tempat yang mudah terlihat seperti menaruhnya di dekat tempat
tidur atau misalnya kalau di kelas kita dapat menaruhnya di pojok baca.
3. Menjadikannya mudah dan menarik.
Dalam Atomic Habits, James menekankan
pentingnya memulai dengan kebiasaan yang mudah untuk dilakukan. Untuk
meningkatkan minat baca, penting untuk memulai dengan buku atau bacaan yang
menarik bagi anak-anak dan remaja, seperti komik edukatif atau cerita pendek
yang sesuai dengan minat mereka. Ini akan menghilangkan rasa berat dan membuat
aktivitas membaca lebih menyenangkan.
4. Membentuk Kebiasaan yang Terhubung dengan Kebiasaan Lain.
James Clear menyarankan menggunakan habit
stacking, yaitu menghubungkan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah
ada. Contohnya, mungkin kamu ada kebiasaan menggosok gigi mu sebelum tidur, nah
jadi katakan lah pada dirimu bahwa setelah menggosok gigi saya akan membaca
buku hingga saya ngantuk baru saya tidur, sehingga dapat tercipta lah habit stracking disitu. Dengan cara ini
membuat membaca menjadi bagian rutinitas sehari-hari yang sudah ada.
5. Self-Rewards.
Clear menjelaskan bahwa kebiasaan
terbentuk melalui siklus isyarat (cue),
keinginan (craving), respons (response), dan hadiah (reward). Hadiah yang diberikan
setelah respons (tindakan) membuat otak lebih cenderung mengulangi kebiasaan
tersebut karena otak mengasosiasikan tindakan dengan hasil positif. Misalnya,
setelah membaca, kamu bisa menikmati cemilan favoritmu sebagai penghargaan.
Di tengah ancaman krisis literasi yang
memprihatinkan, kita tidak boleh tinggal diam. Pendidikan dan literasi adalah
fondasi yang menentukan masa depan generasi mendatang. Meski banyak tantangan
yang kita hadapi, seperti rendahnya akses terhadap bahan bacaan dan kurangnya
budaya membaca, perubahan tetap mungkin terjadi.
Dengan langkah kecil yang konsisten, seperti
yang dijelaskan oleh James Clear dalam “Atomic Habits”, kita bisa menumbuhkan kebiasaan membaca yang
akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Mulai dari kebiasaan kecil,
menjadikannya terlihat, mudah, dan menarik, hingga membentuk rutinitas membaca
yang terhubung dengan aktivitas sehari-hari—semua ini dapat membantu
membangkitkan kembali budaya literasi di Indonesia.
Masa depan bangsa ada di tangan kita, dan meningkatkan literasi adalah salah satu kunci utama untuk mencapainya. Mari bersama-sama berani mengambil langkah, karena perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Dengan literasi yang kuat, kita akan mampu membangun bangsa yang lebih cerdas, kompetitif, dan berdaya saing di era global.
Sumber :
https://kbbi.lektur.id/literasi
https://kallainstitute.ac.id/rendahnya-minat-literasi-di-indonesia/
https://sevima.com/pengertian-literasi-menurut-para-ahli-tujuan-manfaat-jenis-dan-prinsip/
https://www.kompas.id/baca/humaniora/2022/05/26/banyak-siswa-sma-di-ntt-tak-lancar-membaca
https://validnews.id/nasional/studi-siswa-di-ntt-sulit-tingkatkan-literasi
Sumber gambar :
https://situsbudaya.id/budaya-literasi-di-indonesia-ebook/
https://medium.com/@aprxty/financial-literacy-and-inclusion-index-in-indonesia-c127ff6be1ec